كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan
kematian…….” (QS Al-Imran (3):185)
Kematian
merupakan suatu perkara yang akan dialami oleh kita. Setiap jiwa pasti akan
merasakan kematian, bukan hanya manusia saja baik hewan, tumbuhan, dan makhluk
hidup lainnya akan mengalami kematian. Tak seorangpun dapat mengelak darinya.
Walaupun kita bersembunyi, berlari ketika saat malaikat maut menjemput maka
kita tidak dapat mengelak kematian.
Banyak firman Allah SWT dalam Al-Quran tentang kematian seperti dalam
firman-Nya:
أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ
ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ
“Dimanapun kamu berada, kematian
akan menjemputmu. Walaupun kamu berada didalam benteng yang sangat kokoh……..”
(QS An-Nisa(4):78)
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ ٱلْمَوْتِ
بِٱلْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ(19) وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ ۚ
ذَٰلِكَ يَوْمُ ٱلْوَعِيدِ(20)
“Dan datanglah sakaratul maut dengan
sebenar-benarnya, itulah yang dahulu hendak kamu hindari. Dan ditiupkanlah
sangkakala itulah hari yang diancamkan” (QS Qaf(50):19-20)
Allah
SWT sudah menetukan kapan kematian sesorang akan terjadi dan kematian dapat
mengampiri siapa saja tanpa mengenal tempat, usia, serta waktunya. Allah SWT
tidak akan pernah keliru dalam perhitungannya dan juga tidak akan menunda
kematian seseorang sesuai firmannya dalam surat Al-Munafiqun dan surat
Al-A’raf:
وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا
جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan
menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah dating waktu kematiannya. Dan
Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”(QS Al-Munafiqun(63):11)
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا
جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Tiap-tiap umat memiliki batas
waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”(QS Al-A’raf(7):34)
Kematian
merupakan suatu perkara yang pasti. Rasulullah ﷺ
juga memberi anjuran kepada umatnya untuk selalu mengingat kematian. Seperti
dalam sabda beliau:
أَكْثِرُوا
ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِى
الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat pemutus
kenikmatan yaitu kematian” (HR Tirmidzi)
إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا
فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمِ الْآخِرَةَ
“Sesungguhnya aku dahulu melarang
kalian ziarah kubur, maka sekarang beziarahlah kalian karena akan mengingatkan
kalian kepada negeri akhirat” (HR Muslim)
Hadits
diatas menunjukkan bahwa kita sebagai seorang muslim tidak boleh lalai dari
mengingat kematian. Kematian bukanlah akhir dari perjalanan hidup melainkan ada
kehidupan yang lebih hakiki setelah kematian yaitu negeri akhirat. Dunia ini
memang tempat yang melelahkan, tempat kita mencari serta mengumpulkan bekal
untuk dibawa keakhirat kelak. Allah SWT akan meminta pertanggung jawaban dari
semua apa yang sudah kita kejakan dan Allah SWT juga akan membalas seluruh
perbuatan-perbuatan kita. Allah berjanji dalam surat Al-Hasyr bahwa Allah akan
mengganjar perbuatan yang telah kita lakukan sedetail apapun, sesuai dalam
firman-Nya:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟
ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟
ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok(akhirat), dan bertakwlah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Hasyr(59):18)
Selain
itu jika seseorang telah meninggal dunia maka tidaklah bermanfaat harta,
anak-anak, dan keluarganya. Yang bermanfaat baginya hanyalah amalannya saja
sesuai sabda nabi:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ،
يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Yang mengikuti mayit sampai kekubur
ada 3, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya dikubur. Yang mengikutinya
adalah keluarga, harta, dan amalnya. Yang kembali adalah kelurganya dan
hartanya sedangkan yang tetap bersamanya adalah amalnya”(HR Bukhari &
Muslim)
Maka dari itu kita sebagai seorang mukmin harus selalu menambah amal shalih dan jangan merasa cukup. Seseorang yang tidak memanfaatkan masa hidupnya dengan amal shalih pasti akan merasakan penyesalan setelah ia meninggal. Allah SWT menjelaskan orang-orang yang merasa menyesal dalam surat Al-Mu’min ayat 99 dan 100.
ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ(99) لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّآ
(100)إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
(99) (Demikianlah keadaan
orang-orang kafir itu), hingga apabila telah datang kematian kepada seseorang
diantara mereka, dia berkata: “Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (kedunia) (100) agar
aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan” Sekali-kali tidak!
Sungguh itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan diahadapan mereka ada
barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (QS Al-Mu’minun(23):99-100)
Karena
kebaikan Allah SWT, apabila seseorang telah meninggal dunia masih dapat
menikmati amalan-amalan yang pernah diamalkannya. Dalam hadits shahihnya
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ
ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ
يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali
3 yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan
orang tuanya” (HR Muslim)
Apabila
kita telah yakin bahwa ketika kita meninggal hanyalah membawa amalan saja, maka
hendaklah kita memanfaatkan waktu yang tersisa dengan beribadah kepada Allah
SWT dan memperbanyak amal shalih sebagai bekal diakhirat kelak. Kita semua
pasti akan wafat, jadi ketika kita sadar akan meninggalkan dunia maka
semestinya kita paham, apakah kita sudah punya bekal belum untuk pulang? Sudah
ada persiapan belum? Allah berfirman dalam surat Al-Munafiqun:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ
وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ
هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ(9) وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن
يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ
أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ(10) وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ
أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ(11)
(9) Wahai orang-orang yang beriman!
Janganlah harta benda dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mrngingat Allah. Dan
barang siapa berbuat demikian, maka mereka itu orang-orang yang rugi (10) Dan
infakkanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang
kematian kepada seorang diantara kamu, lalu dia berkata (menyesali),”Ya
Tuhanku, sekiranya engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka
aku akan bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh” (11) Dan Allah
tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang.
Dan Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Munafiqun
(63):9-11)
والله أعلم بيشواب

No comments:
Post a Comment