Monday, December 16, 2019

Lihatlah ke Bawah



الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR Ahmad)

            Sebanyak apapun fasilitas hidup kita yang dimiliki di dunia jika dibandingkan dengan kenikmatan surga maka dunia itu ibarat penjara baginya. Allah SWT  memberikannya kepada hamba yang dicintai-Nya dan kepada hamba yang tidak dicintai-Nya, sehingga kelebihan yang diberikan oleh Allah dalam perkara dunia bukan jaminan bahwa ia dicintai Allah SWT. Berapa banyak orang jahat yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya tetapi dia memperoleh kekayaan yang melimpah serta jabatan yang tinggi. Sebaliknya berapa banyak hamba yang taat tetapi tidak memperoleh dunia kecuali sekadarnya. Kenapa demikian? Karena memang dunia tidak bernilai disisi Allah, bisa jadi orang yang taat tidak memperoleh dunia tetapi Allah ganti nanti di akhirat kelak.

            Dalam sebuah riwayat, suatu ketika Rasulullah melewati pasar bersama  para sahabat. Lalu beliau melihat bangkai anak kambing yang cacat telinganya. Beliaupun mengambil kambing itu dan memegang telinga anak kambing tersebut lalu berkata,
Rasulullah       : “Siapakah yang mau membeli ini dengan harga 1 dirham?”
Sahabat           : “Kami tidak tertarik sama sekali untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat    dengannya?”
Rasulullah       : “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”
Sahabat           : “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati.”
Kemudian Rasulullah bersabda :
فَوَاللَّهِ، لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْهَذَا عَلَيْكُمْ
“Demi Allah, sesungguhnya dunia ini lebih hina disisi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” (HR Muslim)

            Mungkin kita termasuk orang yang mendapatkan dunia sekadarnya, tidak berlebihan seperti orang-orang disekitar kita yang memiliki rumah mewah, mobil ganti-ganti, perabotan elektronik yang canggih, serta jabatan yang tinggi. Kekurangan yang ada pada kita dari sisi dunia dan kelebihan yang diperoleh orang lain seharusnya tidak membuat dada kita sempit dan berburuk sangka terhadap Allah SWT. Allah berfirman dalam surat Asy-Syuraa :

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambanya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi maha melihat.” (QS Asy-Syuraa (42):27)

            Dari ayat diatas dapat diketahui seandainya Allah memberikan kepada mereka rezeki diatas kebutuhan mereka, niscaya hal itu akan membuat mereka berlaku sewenang-wenang atas rezeki yang Allah berikan dan membuat mereka menjadi angkuh dan sombong. Akan tetapi Allah menjadikan kaya orang yang berhak menerima kekayaan dan menjadikan fakir orang yang berhak menerima kefakiran. Dia mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya. 
          Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan bimbingan dalam perkara dunia sesuai dalam sabdanya :

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada dibawah kamu dan jangan lihat orang yang berada diatas kamu, karena dengan begitu kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian.” (HR Muslim)

Dalam riwayat yang lain :

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ
“Apabila salah seorang diantara kamu melihat kepada diatasnya dalam hal fisik  maupun harta maka hendaknya ia melihat orang yang lebih rendah dari dirinya.” (HR Muslim)

            Hadits diatas memberikan arahan kepada setiap muslim agar selalu melihat kebawah dalam perkara dunia. Karena dengan melihat orang yang diatas, kita akan selalu berkeluh kesah dan tidak bersyukur terhadap apa yang telah Allah berikan kepada kita. Sebaliknya dalam perkara agama atau akhirat, seorang muslim harus melihat keatas seperti orang yang lebih shalih, lebih taat, lebih bertakwa supaya kita terus menambah ketakwaan kita dan memperbanyak amal ibadah kita kepada Allah SWT.

Lihatlah :
·       Allah memberi tempat tinggal yang menanungi kita setiap hari walaupun sederhana. Lihatlah… banyak orang disekitar kita tidak memiliki rumah, terpaksa tidur di emperan took, berlindung dibawah kolong jembatan, dll.
·       Setiap hari kita bisa makan dan minum walaupun yang tersaji sangat sederhana. Lihatlah… ada orang yang mengais-ngais sampah hanya untuk mencari sesuap nasi untuk mengganjal perut.
·      Kita diberi pakaian yang dapat menutupi aurat dan melindungi kita dari hawa panas maupun dingin walaupun harganya tidak seberapa. Lihatlah… banyak orang yang berpakaian compang-camping karena fakirnya.
·       Kita diberi kenikmatan berupa kesehatan, bernafas tanpa kesulitan. Lihatlah di RS banyak orang-orang di RS tergeletak tak berdaya, kesulitan untuk bernafas karena penyakit yang dideritanya bagaikan ikan yang tak mendapatkan air.
·        Lihatlah dan tengoklah orang yang hidupnya lebih sulit daripada kita dengan begitu kita dapat mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita.
          

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat zalim dan mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim (14):34)

            Hendaklah kita memiliki sifat qona’ah (merasa cukup) terhadap segala nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Jika sifat qona’ah ini tidak ada dalam diri kita maka kita tidak akan pernah merasa puas terhadap pemberian Allah SWT yang begitu banyaknya. Rasulullah  pernah bersabda tentang orang-orang yang tidak qona’ah dan orang-orang yang qona’ah, seperti dalam sebuah hadits:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيا مِنْ أَهْلِ النّارِ يَوْمَ الْقِيامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صِبْغَةً. ثُمَّ يُقالُ: يا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْراً قَطٌّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيْمٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ وَاللهِ يا ربُّ
“Didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya didunia dari kalangan ahli neraka pada hari kiamat, kemudian dia dicelupkan ke dalam  neraka dengan sekali celupan kemudian dia ditanya: Wahai anak adam apakah  kamu pernah melihat kebaikan? Apakah pernah terlintas pada dirimu kenikmatan? Maka dia menjawab: Tidak demi Allah, wahai Rabbku.”


وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النّاسِ بُؤْساً فِي الدُّنْيا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صِبْغَةً فِي الْجَنَّةِ. فَيُقالُ لَهُ: يا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْساً قَطٌّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ وَاللهِ يَا رَبُّ مَا مَرَّ بِيْ بُؤْسٌ قَطٌّ وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطّ
“Dan didatangkan pula manusia yang paling sengsara hidupnya didunia dari kalangan ahli surga, kemudian ia dicelupkan ke dalam surge dalam sekali celupan kemudian dia ditanya: Wahai anak adam apakah kamu pernah melihat kesusahan? Apakah pernah terlintas pada dirimu kesempitan hidup? Maka dia menjawab: Tidak demi Allah, wahai Rabbku, tidak pernah terlintas padaku kesempitan hidup dan aku tidak pernah melihat kesusahan.” (HR Muslim)

Waallahu a'lam bishawab

Thursday, October 31, 2019

Hades



 Hari-hari ini matahari menyinari bumi dengan kasar
 Panas matahari membakar seluruh kulitku
 Keringat mambasahi seluruh tubuhku
 Tak kuasa aku menahan panas terik ini

 Apakah ini bentuk bentuk cobaanmu terhadap hambamu yang pandai  mengeluh?
 Kau berjanji akan menambah nikmat jika hambamu ini selalu bersyukur
 Akan tetapi jika hambamu kufur maka adzabmu sangat pedih
 Itu merupakan janjimu yang tertera pada kitab suci

 Apakah api hitam-Mu terasa seperti ini?
 Tentu saja tidak mungkin
 Karena api hitam-Mu sudah menyala selama 3000 th
 Yang diperuntukkan bagi seluruh hambamu yang membangkang
 Dan tidak akan pernah padam selama-lamanya


Sunday, September 8, 2019

Perkara yang akan ditanya saat hari kiamat



Dalam kesempatan yang baik ini, kita berada di awal tahun Hijriyah yaitu Muharram saya akan menyampaikan sedikit tentang satu hadits. Ada satu hadits nabi sebagai renungan bagi diri saya maupun seluruh umat nabi Muhammad ﷺ untuk kita amalkan karena nabi menyebutkan dalam satu hadits tentang pertanyaan yang Allah akan tanyakan nanti di Padang Mahsyar. Mengenai hari kiamat, Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkan kita melalui ayat-ayat Al-Quran maupun hadits-haditsnya. Salah satu hadits nabi Muhammad yang menggambarkan pada kita kelak di hari kiamat setiap manusia kelak akan dimintai pertanggung jawaban Allah mengenai 4 perkara. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda :
   لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat hingga Allah menanyakan tentang umurnya dihabiskan untuk apa, tentang ilmunya diamalkan atau tidak, tentang hartanya darimana dia peroleh dan kemana dihabiskan, tentang tubuhnya, lelah letihnya.” (HR Tirmidzi)

Dari hadits diatas Rasulullah mengabarkan pada umatnya kelak di hari kiamat setiap bani Adam akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Ini sebagai renungan bagi saya dan bagi kita semua untuk setiap waktu supaya kita selalu mengingat terhadap amalan yang kita kerjakan selama didunia ini. Banyak perkara yang akan ditanyakan oleh Allah pada hari kiamat, yang pokok yang akan ditanyakan adalah berkaitan dengan tauhid, sebagaimana disebutkan oleh Al Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya :
         ما ذاكنتم تعبدون وماذااجبتم امرسلىن
“Bagaimana kalian beribadah kepada Allah dan bagaimana kalian menyambut seruan para rasul” (Al-Imam Ibnu Qayyim)

1.      Umur kita dihabiskan untuk apa?

Jadi di dunia ini umur kita dihabiskan untuk apa? Apa digunakan untuk yang bermanfaat seperti beribadah kepada Allah, ngaji, membantu orang tua, berdzikir,dll. Apa umur kita digunakan untuk waktu yang tidak bermanfaat seperti jalan-jalan, ngobrol, foya-foya, chattingan, main terus sampai kita lupa waktu meninggalkan kewajiban kita sebagai seorang muslim/muslimah. Berbicara tentang umur juga berbicara tentang waktu seperti yang Allah firmankan dalam surat Al-Asr :

وَالْعَصْرِ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر

(1)  Demi masa (2) Sungguh manusia berada dalam kerugian (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (QS Al Asr (103):1-3)

            Waktu juga merupakan nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Diantara sekian banyak nikmat, ada 2 nikmat yang manusia lalai  yaitu nikmat sehat dan waktu luang sebagaimana yang disabdakan oleh nabi :

          نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR Bukhari)

Allah juga mengatakan jika seorang hamba ingin menghitung nikmatnya maka mereka tidak akan sanggup menghitung nikmat yang Allah berikan sesuai yang tertera dalam surat An-Nahl ayat 18 :  

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللّهَ لَغَفُورٌرَّحِيمٌ (١٨)    1   

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya, sungguh Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (QS An-Nahl (16):18)

2.      Ilmu kita diamalkan atau tidak?

Kita sebagai muslim dan muslimah hukumnya wajib unuk menuntut ilmu, entah itu ilmu ibadah, pekerjaan, pelajaran, akidah, syar’i, dan ilmu-ilmu lainnya. Setelah kita belajar kita juga wajib wajib mengamalkannya. Jadi ilmu itu kita pelajari lalu kita amalkan karena sesuai dengan janji Allah dalam surat Az-Zukhruf :

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ(٧٢)
“Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan” (QS Az-Zukhruf (43):72)

        تعلموتعلموفاذاالمتم فعملون 

“Belajarlah,belajarlah kalau kalian sudah belajar amalkan”(Abdullah bin Mas’ud)

 Jadi kita sebagai orang islam harus menuntut ilmu dan harus bertambah setiap hari juga nambah  iman kita, ketaqwaan kita, taqwa kita, tambah zuhud, wara’, tambah takut kepada Allah. Sebab ilmu itu harus diamalkan untuk diri kita,buat rumah tangga dengan istri tambah baik,dengan anak, dengan tetangga juga tambah baik. Bukan tambah kasar, kejam, jauh dari Allah. Kita memasuki jaman dimana fitnah-fitnah bermunculan. Ingat dijaman fitnah ini nabi Muhammad memberi kita solusi ketika banyak fitnah syahwat, finah syubhat bermunculan yang harus kita lakukan adalah segera beramal sesuai sabda nabi :

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ
 يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah beramal sebelum munculnya fitnah (musibah) yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap, seorang pagi beriman sorenya kafir atau sorenya beriman paginya kafir yang menjual agama dengan gemerlap dunia” (HR Muslim)
3.      Harta kita darimana diperoleh dan kemana dihabiskan?

Harta ini ada 2 yang ditanya yang pertama darimana kita peroleh apa dari cara yang halal atau yang haram, syubhat, uang yayasan, uang kantor, judi, dan lain-lain. Sebagai manusia kita harus berusaha mencari harta dengan cara yang halal, jika kita mengambil harta dari yang haram maka tempatnya adalah neraka sesuai sabda nabi  :

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas baginya” (HR Ath-Thabrani)

        وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ حَلاَلاً طَيِّبً)……٨٨(

“Dan makanlah yang halal lagi baik dari apa yang Allah rezekikan kepadamu…..” (QS Al-Maidah (5):88)

Nabi Muhammad juga berpesan bahwa diakhir jaman aka ada umatnya yang tidak   mempedulikan darimana dia memperoleh harta tersebut.

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ  مِنْ حَرَامٍ 

“Akan datang suatu masa pada umat manusia mereka tidak lagi peduli dengan cara apa untuk mendapatkan harta apakah dari cara yang halal atau yang haram” (HR Bukhari)

            Adapun harta kita bukan hanya dari pekerjaan saja mungkin juga bias dari warisan. Harta kita juga bisa menjadi fitnah karena fitnah yang besar adalah fitnah harta. Terkadang kita juga sibuk didunia ini hanya untuk mencari harta dan menumpuk-numpuknya seperti Qorun.

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah dan fitnah umatku adalah harta” (HR Tirmidzi)

       Lalu yang kedua kemana harta kita dihabiskan? Apa harta kita dihabiskan untuk maksiat, kesyirikan, foya-foya,mubadzir, dan lain-lain. Sebab harta yang kita miliki bukan milik kita melainkan hanya titipan dari Allah. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 27 :

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا  (27)

“Sesungguhnya orang mubadzir temannya setan, dan setan itu sangat ingkar kepada tuhannya” (QS Al-Isra' (17):27)

       Harta itu sebaiknya bukan untuk disimpan tetapi lebih baik kita keluarkan untuk infaq, membantu fakir miskin, anak yatim, pembangunan masjid, dan lain-lain. Rasulullah  menyuruh kita untuk infaq, bahkan setiap hari walaupun hanya sedikit tapi bermanfaat dan harta yang kita sedekahkan tidak akan berkurang sesuai sabda nabi dan firman Allah pada surat Saba dan Al-Baqarah.
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ……  

“Sedekah tidaklah mengurangi harta……” (HR Muslim)      


.......وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (39)

........ dan apa saja yang kamu infakkan maka Allah akan menggantinya, dan dialah pemberi rezeki yang baik” (QS As-Saba (34:39)

   مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي 
كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاء وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (261)

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang dikehendaki, dan Allah maha luas maha mengetahui”(QS Al-Baqarah (2):261)

4.      Lelah letihnya tubuh kita untuk apa?

Yang terakhir yang Allah tanyakan dari hadits ini adalah lelah, letihnya kita untuk apa? Apa lelah kita untuk begadang, jalan-jalan, lelah kita karena berolahraga, mencari nafkah sampai menunda solat yang merupakan kewajiban kita. Atau lelah kita sibuk membaca Al-Quran, membantu orang tua, membantu yayasan masjid, membantu janda-janda. Dalam surat Qasas Allah menjadikan siang untuk mencari nafkah dan malam untuk istirahat sesuai firman-Nya :

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (73)

“Dan karena rahmat-Nya dia jadikan untukmu malam dan siang agar kamu beristirahat pada malam hari dan mencari sebagian dari karunia-Nya pada siang hari agar kamu bersyukur kepadanya”(QS Al-Qasas (28):73)

Nabi Muhammad juga berpesan kepada kita supaya kita harus semangat dalam beramal, bukan hanya semangat dalam bekerja. Kita tidak boleh malas dalam beribadah dan menjalankan sunnah-sunnah yang nabi ajarkan. Dalam hadits shahihnya nabi bersabda :

  إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ اهْتَدَى  وَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْهَلَكَ

“Sesungguhnya tiap amalan ada masa semangatnya ada lelahnya (futur). Barangsiapa lelahnya karena sunnahku maka dia mendapat petunjuk dan barangsiapa lelahnya karena bukan sunnahku maka dia telah binasa” (HR Ahmad)

          Dari 4 pertanyaan ini mari kita renungi setiap waktu dan kita amalkan. Yang pertama tentang umur kita dihabiskan untuk apa, yang kedua tentang ilmu diamalkan atau tidak, yang ketiga tentang harta kita darimana diperoleh dan kemana dihabiskan, dan yang terakhir lelah dan letih kita untuk apa. Mudah-mudahan yang saya sampaikan bermanfaat untuk kita semua dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menuntut kita ke jalan yang lurus, semoga Allah memberi kita taufiq pada kita untuk melakukan amal-amal soleh dan menjauhi segala larangan-Nya.

Waallahu a'lam bishawab







Saturday, September 7, 2019

About me


  
Namanya Sulaiman Rusdi Dziban  lahir di Yogyakarta, 30 Juni 1999 dan merupakan anak pertama dari 5 bersaudara, dari pasangan Rusdi Dziban dan Lina Alfiah. Dia biasa dipanggil Sulaiman atau Iman dan hobinya travelling, membaca, futsal, ngegame, dll.

Iman pertama kali masuk sekolah di TK Budi Mulya 2 Pandeansari (2003-2005). Kemudian setelah lulus dia melanjutkan ke SD Budi Mulya 2 Pandeansari (2005-2009). Di tahun 2009 dia harus mengikuti ayahnya untuk bekerja di Banyuwangi yang pada akhirnya dia pindah ke SD Al-Irsyad (2009-2011). Selepas lulus SD dia melanjutkan sekolahnya di SMPN 1 Glagah (2011-2014) dan kemudian melanjutkan sekolah lagi ke SMAN 1 Giri (2014-2017). Saat ini dia sedang melanjutkan studinya di Universitas Jember fakultas Teknik Elektro.