Monday, December 16, 2019

Lihatlah ke Bawah



الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR Ahmad)

            Sebanyak apapun fasilitas hidup kita yang dimiliki di dunia jika dibandingkan dengan kenikmatan surga maka dunia itu ibarat penjara baginya. Allah SWT  memberikannya kepada hamba yang dicintai-Nya dan kepada hamba yang tidak dicintai-Nya, sehingga kelebihan yang diberikan oleh Allah dalam perkara dunia bukan jaminan bahwa ia dicintai Allah SWT. Berapa banyak orang jahat yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya tetapi dia memperoleh kekayaan yang melimpah serta jabatan yang tinggi. Sebaliknya berapa banyak hamba yang taat tetapi tidak memperoleh dunia kecuali sekadarnya. Kenapa demikian? Karena memang dunia tidak bernilai disisi Allah, bisa jadi orang yang taat tidak memperoleh dunia tetapi Allah ganti nanti di akhirat kelak.

            Dalam sebuah riwayat, suatu ketika Rasulullah melewati pasar bersama  para sahabat. Lalu beliau melihat bangkai anak kambing yang cacat telinganya. Beliaupun mengambil kambing itu dan memegang telinga anak kambing tersebut lalu berkata,
Rasulullah       : “Siapakah yang mau membeli ini dengan harga 1 dirham?”
Sahabat           : “Kami tidak tertarik sama sekali untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat    dengannya?”
Rasulullah       : “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”
Sahabat           : “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati.”
Kemudian Rasulullah bersabda :
فَوَاللَّهِ، لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْهَذَا عَلَيْكُمْ
“Demi Allah, sesungguhnya dunia ini lebih hina disisi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” (HR Muslim)

            Mungkin kita termasuk orang yang mendapatkan dunia sekadarnya, tidak berlebihan seperti orang-orang disekitar kita yang memiliki rumah mewah, mobil ganti-ganti, perabotan elektronik yang canggih, serta jabatan yang tinggi. Kekurangan yang ada pada kita dari sisi dunia dan kelebihan yang diperoleh orang lain seharusnya tidak membuat dada kita sempit dan berburuk sangka terhadap Allah SWT. Allah berfirman dalam surat Asy-Syuraa :

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambanya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi maha melihat.” (QS Asy-Syuraa (42):27)

            Dari ayat diatas dapat diketahui seandainya Allah memberikan kepada mereka rezeki diatas kebutuhan mereka, niscaya hal itu akan membuat mereka berlaku sewenang-wenang atas rezeki yang Allah berikan dan membuat mereka menjadi angkuh dan sombong. Akan tetapi Allah menjadikan kaya orang yang berhak menerima kekayaan dan menjadikan fakir orang yang berhak menerima kefakiran. Dia mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya. 
          Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan bimbingan dalam perkara dunia sesuai dalam sabdanya :

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada dibawah kamu dan jangan lihat orang yang berada diatas kamu, karena dengan begitu kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian.” (HR Muslim)

Dalam riwayat yang lain :

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ
“Apabila salah seorang diantara kamu melihat kepada diatasnya dalam hal fisik  maupun harta maka hendaknya ia melihat orang yang lebih rendah dari dirinya.” (HR Muslim)

            Hadits diatas memberikan arahan kepada setiap muslim agar selalu melihat kebawah dalam perkara dunia. Karena dengan melihat orang yang diatas, kita akan selalu berkeluh kesah dan tidak bersyukur terhadap apa yang telah Allah berikan kepada kita. Sebaliknya dalam perkara agama atau akhirat, seorang muslim harus melihat keatas seperti orang yang lebih shalih, lebih taat, lebih bertakwa supaya kita terus menambah ketakwaan kita dan memperbanyak amal ibadah kita kepada Allah SWT.

Lihatlah :
·       Allah memberi tempat tinggal yang menanungi kita setiap hari walaupun sederhana. Lihatlah… banyak orang disekitar kita tidak memiliki rumah, terpaksa tidur di emperan took, berlindung dibawah kolong jembatan, dll.
·       Setiap hari kita bisa makan dan minum walaupun yang tersaji sangat sederhana. Lihatlah… ada orang yang mengais-ngais sampah hanya untuk mencari sesuap nasi untuk mengganjal perut.
·      Kita diberi pakaian yang dapat menutupi aurat dan melindungi kita dari hawa panas maupun dingin walaupun harganya tidak seberapa. Lihatlah… banyak orang yang berpakaian compang-camping karena fakirnya.
·       Kita diberi kenikmatan berupa kesehatan, bernafas tanpa kesulitan. Lihatlah di RS banyak orang-orang di RS tergeletak tak berdaya, kesulitan untuk bernafas karena penyakit yang dideritanya bagaikan ikan yang tak mendapatkan air.
·        Lihatlah dan tengoklah orang yang hidupnya lebih sulit daripada kita dengan begitu kita dapat mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita.
          

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat zalim dan mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim (14):34)

            Hendaklah kita memiliki sifat qona’ah (merasa cukup) terhadap segala nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Jika sifat qona’ah ini tidak ada dalam diri kita maka kita tidak akan pernah merasa puas terhadap pemberian Allah SWT yang begitu banyaknya. Rasulullah  pernah bersabda tentang orang-orang yang tidak qona’ah dan orang-orang yang qona’ah, seperti dalam sebuah hadits:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيا مِنْ أَهْلِ النّارِ يَوْمَ الْقِيامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صِبْغَةً. ثُمَّ يُقالُ: يا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْراً قَطٌّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيْمٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ وَاللهِ يا ربُّ
“Didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya didunia dari kalangan ahli neraka pada hari kiamat, kemudian dia dicelupkan ke dalam  neraka dengan sekali celupan kemudian dia ditanya: Wahai anak adam apakah  kamu pernah melihat kebaikan? Apakah pernah terlintas pada dirimu kenikmatan? Maka dia menjawab: Tidak demi Allah, wahai Rabbku.”


وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النّاسِ بُؤْساً فِي الدُّنْيا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صِبْغَةً فِي الْجَنَّةِ. فَيُقالُ لَهُ: يا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْساً قَطٌّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ وَاللهِ يَا رَبُّ مَا مَرَّ بِيْ بُؤْسٌ قَطٌّ وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطّ
“Dan didatangkan pula manusia yang paling sengsara hidupnya didunia dari kalangan ahli surga, kemudian ia dicelupkan ke dalam surge dalam sekali celupan kemudian dia ditanya: Wahai anak adam apakah kamu pernah melihat kesusahan? Apakah pernah terlintas pada dirimu kesempitan hidup? Maka dia menjawab: Tidak demi Allah, wahai Rabbku, tidak pernah terlintas padaku kesempitan hidup dan aku tidak pernah melihat kesusahan.” (HR Muslim)

Waallahu a'lam bishawab