الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia itu penjara bagi orang mukmin
dan surga bagi orang kafir.” (HR Ahmad)
Sebanyak
apapun fasilitas hidup kita yang dimiliki di dunia jika dibandingkan dengan
kenikmatan surga maka dunia itu ibarat penjara baginya. Allah SWT memberikannya kepada hamba yang dicintai-Nya
dan kepada hamba yang tidak dicintai-Nya, sehingga kelebihan yang diberikan
oleh Allah dalam perkara dunia bukan jaminan bahwa ia dicintai Allah SWT.
Berapa banyak orang jahat yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya tetapi dia
memperoleh kekayaan yang melimpah serta jabatan yang tinggi. Sebaliknya berapa
banyak hamba yang taat tetapi tidak memperoleh dunia kecuali sekadarnya. Kenapa
demikian? Karena memang dunia tidak bernilai disisi Allah, bisa jadi orang yang
taat tidak memperoleh dunia tetapi Allah ganti nanti di akhirat kelak.
Dalam
sebuah riwayat, suatu ketika Rasulullah melewati pasar bersama para sahabat. Lalu beliau melihat bangkai anak
kambing yang cacat telinganya. Beliaupun mengambil kambing itu dan memegang
telinga anak kambing tersebut lalu berkata,
Rasulullah : “Siapakah yang mau membeli ini dengan
harga 1 dirham?”
Sahabat : “Kami
tidak tertarik sama sekali untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”
Rasulullah : “Atau
mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”
Sahabat : “Demi
Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat karena telinganya
kecil. Apalagi kambing itu sudah mati.”
Kemudian Rasulullah bersabda :
فَوَاللَّهِ، لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْهَذَا عَلَيْكُمْ
“Demi Allah, sesungguhnya dunia ini
lebih hina disisi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” (HR Muslim)
Mungkin
kita termasuk orang yang mendapatkan dunia sekadarnya, tidak berlebihan seperti
orang-orang disekitar kita yang memiliki rumah mewah, mobil ganti-ganti,
perabotan elektronik yang canggih, serta jabatan yang tinggi. Kekurangan yang
ada pada kita dari sisi dunia dan kelebihan yang diperoleh orang lain
seharusnya tidak membuat dada kita sempit dan berburuk sangka terhadap Allah
SWT. Allah berfirman dalam surat Asy-Syuraa :
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ
وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Dan jikalau Allah melapangkan
rezeki kepada hamba-hambanya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi,
tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya
Dia maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi maha melihat.” (QS
Asy-Syuraa (42):27)
Dari
ayat diatas dapat diketahui seandainya Allah memberikan kepada mereka rezeki
diatas kebutuhan mereka, niscaya hal itu akan membuat mereka berlaku
sewenang-wenang atas rezeki yang Allah berikan dan membuat mereka menjadi
angkuh dan sombong. Akan tetapi Allah menjadikan kaya orang yang berhak
menerima kekayaan dan menjadikan fakir orang yang berhak menerima kefakiran.
Dia mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya.
Nabi
Muhammad ﷺ telah memberikan bimbingan dalam perkara dunia sesuai dalam sabdanya
:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ
هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada dibawah kamu dan jangan lihat orang yang berada
diatas kamu, karena dengan begitu kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang
diberikan-Nya kepada kalian.” (HR Muslim)
Dalam riwayat yang lain :
إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ
وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ
عَلَيْهِ
“Apabila salah seorang diantara kamu
melihat kepada diatasnya dalam hal fisik
maupun harta maka hendaknya ia melihat orang yang lebih rendah dari
dirinya.” (HR Muslim)
Hadits
diatas memberikan arahan kepada setiap muslim agar selalu melihat kebawah dalam
perkara dunia. Karena dengan melihat orang yang diatas, kita akan selalu
berkeluh kesah dan tidak bersyukur terhadap apa yang telah Allah berikan kepada
kita. Sebaliknya dalam perkara agama atau akhirat, seorang muslim harus melihat
keatas seperti orang yang lebih shalih, lebih taat, lebih bertakwa supaya kita
terus menambah ketakwaan kita dan memperbanyak amal ibadah kita kepada Allah
SWT.
Lihatlah :
· Allah
memberi tempat tinggal yang menanungi kita setiap hari walaupun sederhana.
Lihatlah… banyak orang disekitar kita tidak memiliki rumah, terpaksa tidur di
emperan took, berlindung dibawah kolong jembatan, dll.
· Setiap
hari kita bisa makan dan minum walaupun yang tersaji sangat sederhana.
Lihatlah… ada orang yang mengais-ngais sampah hanya untuk mencari sesuap nasi
untuk mengganjal perut.
· Kita
diberi pakaian yang dapat menutupi aurat dan melindungi kita dari hawa panas
maupun dingin walaupun harganya tidak seberapa. Lihatlah… banyak orang yang
berpakaian compang-camping karena fakirnya.
· Kita
diberi kenikmatan berupa kesehatan, bernafas tanpa kesulitan. Lihatlah di RS
banyak orang-orang di RS tergeletak tak berdaya, kesulitan untuk bernafas
karena penyakit yang dideritanya bagaikan ikan yang tak mendapatkan air.
· Lihatlah
dan tengoklah orang yang hidupnya lebih sulit daripada kita dengan begitu kita
dapat mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita.
وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟
نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu
(keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya
manusia sangat zalim dan mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim (14):34)
Hendaklah kita memiliki sifat
qona’ah (merasa cukup) terhadap segala nikmat yang Allah SWT berikan kepada
kita. Jika sifat qona’ah ini tidak ada dalam diri kita maka kita tidak akan
pernah merasa puas terhadap pemberian Allah SWT yang begitu banyaknya.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang orang-orang yang tidak
qona’ah dan orang-orang yang qona’ah, seperti dalam sebuah hadits:
يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيا مِنْ أَهْلِ النّارِ يَوْمَ الْقِيامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صِبْغَةً. ثُمَّ يُقالُ: يا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْراً قَطٌّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيْمٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ وَاللهِ يا ربُّ
“Didatangkan orang yang paling
nikmat hidupnya didunia dari kalangan ahli neraka pada hari kiamat, kemudian
dia dicelupkan ke dalam neraka dengan
sekali celupan kemudian dia ditanya: Wahai anak adam apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah pernah
terlintas pada dirimu kenikmatan? Maka dia menjawab: Tidak demi Allah, wahai
Rabbku.”
وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النّاسِ بُؤْساً فِي الدُّنْيا مِنْ أَهْلِ
الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صِبْغَةً فِي الْجَنَّةِ. فَيُقالُ لَهُ: يا ابْنَ آدَمَ
هَلْ رَأَيْتَ بُؤْساً قَطٌّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ
وَاللهِ يَا رَبُّ مَا مَرَّ بِيْ بُؤْسٌ قَطٌّ وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطّ
“Dan didatangkan pula manusia yang
paling sengsara hidupnya didunia dari kalangan ahli surga, kemudian ia dicelupkan
ke dalam surge dalam sekali celupan kemudian dia ditanya: Wahai anak adam
apakah kamu pernah melihat kesusahan? Apakah pernah terlintas pada dirimu
kesempitan hidup? Maka dia menjawab: Tidak demi Allah, wahai Rabbku, tidak
pernah terlintas padaku kesempitan hidup dan aku tidak pernah melihat
kesusahan.” (HR Muslim)
Waallahu a'lam bishawab