Thursday, November 19, 2020

Death Note


كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ 

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian…….” (QS Al-Imran (3):185)

            Kematian merupakan suatu perkara yang akan dialami oleh kita. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, bukan hanya manusia saja baik hewan, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya akan mengalami kematian. Tak seorangpun dapat mengelak darinya. Walaupun kita bersembunyi, berlari ketika saat malaikat maut menjemput maka kita  tidak dapat mengelak kematian. Banyak firman Allah SWT dalam Al-Quran tentang kematian seperti dalam firman-Nya:

أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ 

“Dimanapun kamu berada, kematian akan menjemputmu. Walaupun kamu berada didalam benteng yang sangat kokoh……..” (QS An-Nisa(4):78)

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ ٱلْمَوْتِ بِٱلْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ(19) وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ ٱلْوَعِيدِ(20)

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, itulah yang dahulu hendak kamu hindari. Dan ditiupkanlah sangkakala itulah hari yang diancamkan” (QS Qaf(50):19-20)

            Allah SWT sudah menetukan kapan kematian sesorang akan terjadi dan kematian dapat mengampiri siapa saja tanpa mengenal tempat, usia, serta waktunya. Allah SWT tidak akan pernah keliru dalam perhitungannya dan juga tidak akan menunda kematian seseorang sesuai firmannya dalam surat Al-Munafiqun dan surat Al-A’raf:

وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah dating waktu kematiannya. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”(QS Al-Munafiqun(63):11)

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat memiliki batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”(QS Al-A’raf(7):34)

            Kematian merupakan suatu perkara yang pasti. Rasulullah juga memberi anjuran kepada umatnya untuk selalu mengingat kematian. Seperti dalam sabda beliau:

 

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ  يَعْنِى الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian” (HR Tirmidzi)

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمِ الْآخِرَةَ

“Sesungguhnya aku dahulu melarang kalian ziarah kubur, maka sekarang beziarahlah kalian karena akan mengingatkan kalian kepada negeri akhirat” (HR Muslim)

            Hadits diatas menunjukkan bahwa kita sebagai seorang muslim tidak boleh lalai dari mengingat kematian. Kematian bukanlah akhir dari perjalanan hidup melainkan ada kehidupan yang lebih hakiki setelah kematian yaitu negeri akhirat. Dunia ini memang tempat yang melelahkan, tempat kita mencari serta mengumpulkan bekal untuk dibawa keakhirat kelak. Allah SWT akan meminta pertanggung jawaban dari semua apa yang sudah kita kejakan dan Allah SWT juga akan membalas seluruh perbuatan-perbuatan kita. Allah berjanji dalam surat Al-Hasyr bahwa Allah akan mengganjar perbuatan yang telah kita lakukan sedetail apapun, sesuai dalam firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok(akhirat), dan bertakwlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Hasyr(59):18)

            Selain itu jika seseorang telah meninggal dunia maka tidaklah bermanfaat harta, anak-anak, dan keluarganya. Yang bermanfaat baginya hanyalah amalannya saja sesuai sabda nabi:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ  فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ  وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai kekubur ada 3, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya dikubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amalnya. Yang kembali adalah kelurganya dan hartanya sedangkan yang tetap bersamanya adalah amalnya”(HR Bukhari & Muslim)

            Maka dari itu kita sebagai seorang mukmin harus selalu menambah amal shalih dan jangan merasa cukup. Seseorang yang tidak memanfaatkan masa hidupnya dengan amal shalih pasti akan merasakan penyesalan setelah ia meninggal. Allah SWT menjelaskan orang-orang yang merasa menyesal dalam surat Al-Mu’min ayat 99 dan 100.

   ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ(99) لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّآ 

(100)إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ  

(99) (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila telah datang kematian kepada seseorang diantara mereka, dia berkata: “Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (kedunia) (100) agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan” Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan diahadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (QS Al-Mu’minun(23):99-100)

            Karena kebaikan Allah SWT, apabila seseorang telah meninggal dunia masih dapat menikmati amalan-amalan yang pernah diamalkannya. Dalam hadits shahihnya Rasulullah bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ


“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali 3 yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya” (HR Muslim)

            Apabila kita telah yakin bahwa ketika kita meninggal hanyalah membawa amalan saja, maka hendaklah kita memanfaatkan waktu yang tersisa dengan beribadah kepada Allah SWT dan memperbanyak amal shalih sebagai bekal diakhirat kelak. Kita semua pasti akan wafat, jadi ketika kita sadar akan meninggalkan dunia maka semestinya kita paham, apakah kita sudah punya bekal belum untuk pulang? Sudah ada persiapan belum? Allah berfirman dalam surat Al-Munafiqun:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ(9) وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ(10) وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ(11)

(9) Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta benda dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mrngingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itu orang-orang yang rugi (10) Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada seorang diantara kamu, lalu dia berkata (menyesali),”Ya Tuhanku, sekiranya engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh” (11) Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Munafiqun (63):9-11)

والله أعلم بيشواب